Rabu, 13 Februari 2013

Oh Indonesiaku

Berbagai masalah telah dihadapi oleh Indonesia dengan segala konsekuensinya, pembangunan disegala bidang telah diupayakan meskipun dari berbagai sisi,  hal tersebut masih menjadi pertanyaan besar bagi jutaan rakyat Indonesia, apakah semua hal tersebut telah mensejahterakan rakyat Indonesia? Sebuah pertanyaan yang harus dijawab dengan cepat mengingat posisi Indonesia sebagai negara berkembang harus menjadi contoh sukses negara berkembang lainnya pasca tragedi terorisme dan krisis moneter yang melanda Indonesia sekaligus membuktikan bahwa Indonesia mampu bangkit.
Berbicara mengenai kondisi Indonesia hari ini, selayaknya menjadi takaran bahwa sampai sejauh mana kesiapan Indonesia menghadapi  Millenium development Goals 2015, sebuah program besar  yang ditandatangani oleh 189 negara di dunia termasuk Indonesia dalam pertemuan puncak minlenium di New York, September 2000.

Millennium Development Goals (MDGs) memiliki sasaran jelas dalam konsepnya, sebuah negara harus mampu melaksanakan beberapa point penting yakni pengentasan kemiskinan dan kelaparan yang setiap hari semakin parah, pemerataan pendidikan dasar, mendukung persamaan gender dan pemberdayaan perempuan, mengurangi tingkat kematian anak yang tinggi akibat kurang tersedianya informasi dari pemerintah, meningkatkan kesehatan ibu, pencengahan terhadap penyakit HIV/AIDS, Malaria, dan penyakit lainnya, menjamin kelangsungan lingkungan hidup dalam artian bahwa setiap negara harus mampu mensinergikan konsep pembangunan dan ketahan lingkungan hidup, serta  menjaga kemitraan global dalam paradigm perdangangan bebas.
Kondisi Indonesia hari ini.
Berbagai point penting MDGs tersebut adalah tugas berat bagi pemerintahan Indonesia, MDGs yang ditargetkan pada tahun 2015 telah sampai dan direalisasikan oleh negara-negara peserta MDGs, berbicara di tingkatan Indonesia, sekadar mengingatkan bahwa Indonesia, menurut UN  World Population Projection dan proyeksi Bapenna, tahun 2009, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan 234 juta jiwa dan pada tahun 2010 menjadi 238 juta jiwa dengan laju penduduk kurun lima tahun terakhir mencapai 1, 26 persen, sebuah angka yang besar dalam populasi dunia dan menjadi point utama yang harus dibenahi dalam MDGs.
Pengganguran yang tinggi turut menjadi hambatan,  catatan proyeksi LIPI mengatakan bahwa tingkat pengaguran naik pada tahun 2009 ini yakni berkisar  9% dari angka pada tahun 2008 sebesar 8,5 % sehingga sangat besar kemungkinan terjadinya ketimpanan ekonomi dalm mawyarakat kita bahkan hal ini diperparah dengan kondisi pendidikan yang semakin mahal, jargon pendidikan gratis oleh pemerinrtah pada dasarnya belum mampu mewadahi kebutuhan masyrakat miskin, munkin kita masih ingat kisruh penetapan RUU BHP oleh DPR yang memicu aksi penentangan oleh mahasiswa dan kalangan akademisi yang peduli terhadap kelangsunan pendidikan yang murah dan baik kepada rakyat Indonesia, dalam beberapa pasal undang-undang terebut dijelaskan bahwa pemerintah lepa tanan akan biaya pendidikan sehinga semuanya ditentukan oleh pihak rektorat dan egala upaanya untuk mencari modal.
Masalah krusial lainnya ialah kemiskinan, kemiskinan oleh pemerintah menjadi momok menakutkan, ini bukan hanya persoalan masalah statistika tingkat kemikinan di indonesi kan tetapi juga merupakan harga diri. menurut UNDP batas kemiskinan ditetapkan kepada rakyat Indonesia yang berpenghasilan 2 USD atau sekitar 20 ribu rupiah sehinga jika standar ini kita coba pakai maka jumlah angka kemiskinan sangatlah tinggi, sebanyak 35 juta penduduk Indonesia hidup dibawah garis kemiskinan, jumlah ini lebih banyak dibandingkan dengan penduduk Malaysia atau Australia.
Tingkat kesehatan di Indonesia pun tak kala ironisnya, mungkin kita sering kali menyaksikan di media massa bagaimana perjuangan rakyat miskin dalam mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak bahkan banyak diantara meraka harus terlunta-lunta di rumah sakit karena tak mampu membayar rumah sakit, gizi buruk di kalangan masyarakat kelas bawah, ibu yang meninggalkan anaknya dirumah sakit bukanlah sebuah cerita sinetron, ini adalah nyata. Konsep human security seyogyanya dipahami oleh pemerintah bahwa salah satu elemen penting dalam pembangunan sebuah bangsa ialah kelangsungan hidup rakyatnya.
Selain itu, kekuatan pasar bebas dalam menenutukan harga dunia kerap kali merugikan rakyat Indonesia yang sebagian besar berkecimpung di dunia pertanian dan perdangangan, lonjakan harga kebutuhan pokok semakin sulit apalagi dengan serbuan barang asing ke dalam negeri sehingga wacana pasar bebas haruslah sejak dini diantisipasi dengan memberikan perlindungan terhadap industry dalam negeri agar nantinya pertumbuahn ekonomi local kecil menengah ke bawah mampu menjadi pelaku pasar dalam negari bukan pelaku asing.
Di tingkatan internasional, Indonesia sering kali menjadi perhatian, sebagai negara dengan penduduk terbesar keempat di dunia dengan system demokrasi kita selama ini yang diakui oleh dunia, kematangan sebagai sebuah negara berkembang menjadi point lebih dalam konstalasi politik global sehingga disinilah peran pemerintah dalam menjalankan kebijakan-kebijakan yang berpegang teguh terhadap kesejahteraan rakyat,  pemerintah perlu menjadi corong keras terhadap isu-isu yang ada, masalah pemanasan global, ketahanan ekologis terhadap laju ekonomi yang terkadang bersifat kapitalistik yakni pengumpulan keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperhatiakn aspek-aspek kehidupan lainnya, masalah intervensi kemanusiaan dan berbagi masalah krusial lainnya adalah hal wajib untuk diperjuangkan karena dengan hal ini, bangsa Indonesia mampu menjadi negara yang betul-betul memaknai Millennium Development Goals dan menjadikan arah politik luar negeri kita semakin jelas.
Potensi Gagal MDGs
berangkat dari berbgai fenomena yang coba digambarkan diatas, ironis memang jika ternyata sampai hari ini, takaran-takaran dalam MDGs mungkin masih jauh bahkan hampir mutahil untuk dicapai oleh pemerintah Indonesia hari ini, sisa waktu lima tahun sangatlah sempit.
Berbagai spekulasi mulai timbul mengenai kemungkinan kegagalan MDGs mengingat selain harus mencapai target 2015, konstraversi bermunculan akan kemampuan Indonesia mencapai target MDGs mulai dari kelemahan system birokrasi kita yang tidak mampu menwadahi kepentingan masyarakat luas, tingkat partisipasi masyarakat, tingkat pendapatan dn belanja negara yang kadang tidak sinkron  sampai masalah yang sangat serius yakni Indonesia juga harus menanngung beban pembayaran utang yang sangat besar, merujuk data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan per 31 Agustus 2008, beban pembayaran utang terbesar akan terjadi interval 2009-2015 dengan jumlah berkisar 97, 7 triliun (2009) hingga 81, 54 triliun (2015), rentang waktu yang sama dalam target MDGs.
Bahkan mungkin banyak diantara masyarakat luas lainnya belum paham mengenai MDGs ini sehingga upaya penciptaannya pun terkesan terhambat, tanpa upaya yang serius oleh pemerintah berupa perbaikan system birokrasi berbasis kerakyatan sampai upaya negosiasi pengurangan jumlah pembayaran utang luar negeri dan juga langkah-langkah maju lainnya, jangan sampai apa yang dilakukan malah menjadi langkah mundur dalam penciptaan insan Indonesia yang hebat dan menjadikan Indonesia betul-betul gagal mencapai target MDGs.
Pembangunan infrasturktur dan fasilitas penunjang lainnya turut diperlukan sebagai alat ang dapat digunakan oleh masyarakat dan semua ini bukanlah hal mudah, target pemerintah dalam penumbuhan ekonomi sebesar 7 persen haruslah betul-betul dilaksanakan.
Pada akhirnya, MDGs bukanlah hal yang mudah, akan tetapi hal terpenting yang juga perlu dingat ialah Millennium Development Goals hanyalah metode agar bagaimana negara-negara di dunia mampu berkembang dan belajar mengelolah kepentingan antara rakyat, pemerintah dan pemilik modal lainnya, dan yang pasti kesejahteraan rakyat haruslah terjamin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar